Reportase Pertemuan kedua tentang  Pendidikan Karakter

Nama     : Dyah Saraswati
NPM : 15120364
Kelas : PGSD 7A
Makul : Filsafat Pendidikan



         Saya akan menyampaikan  hasil reportase saya mengenai  materi kedua mata kuliah filsafat pendidikan yang telah saya laksanakan pada tanggal 2 Oktober 2018 dengan Bapak Moh Aniq KHB, S.Pd., M.Hum yang menjelaskan tentang pendidikan karakter dan mendengarkan merupakan aktivitas yang sulit.
         Selama ini masih banyak orang yang suka banyak berbicara dan sedikit mendengarkan karena nya mendengarkan menjadi pekerjaan atau aktivitas yang sulit dilakukan oleh setiap orang. Orang yang sedang diam belum tentu orang tersebut tidak aktif, bisa jadi orang tersebut sedang mendengarkan dirinya sendiri misalnya bertapa, dan wiridan. Aktifitas tersebut merupakan aktivitas seseorang berdiam diri untuk mendengarkan dirinya sendiri sehingga diharapkan dapat mengaktifasikan pendengaran dan rasa. Belum tentu apa yang sedang dibicarakan orang yang suka berbicara bermanfaat daripada orang yang sedang diam. Terkadang orang yang banyak berbicara membicarakan hal-halyang tidak baik misalnya gibah atau membicarakan orang lain dibelakang atau membicarakan sesuatu yang dimilikinya atau riya. Dari contoh tersebut lebih baik orang yang diam tetapi melakukan hal-hal yang positif seperti wiridan daripada orang yang banyak bicara sehingga mendengarkan merupakan aktivitas yang sulit.
          Pemikiran John Dewey, Evan Alex, William O'nail, dan Piaget merupakan pemikir yang  mencaritahu hakikat pendikan. Pemikiran John Dewey mengenai pendidikan dimulai saat ia mulai mengkritik tentang sistem pendidikan tradisional yang bersifat determinasi. Bagi Dewey kehidupan masyarakat yang berdemokratis adalah dapat terwujud bila dalam dunia pendidikan hal itu sedah terlatih menjadi suatu kebiasaan yang baik. ia mengatakan bahwa ide pokok demokratis adalah pandangan hidup yang dicerminkan dengan perlunya partisipasi dari setiap warga yang sudag dewasa dalam membentuk nilai-nilai yang mengatur untuk hidup bersama. Dewey menekankan kebebasan akademik dalam lingkungan pendidikan. Ki Hajar Dewantara merupakan bapak marcucuar pendidikan. Pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara mengenai akhlak yaitu sebagai pembentuk individu masing-masing setiap orang. Orang yang berpendidikan bisa mempunyai akhlak yang baik karena mereka mengetahui mana perbuatan yang salah dan mana perbuatan yang tidak baik. Menurut Ki Hajar Dewantara pendidikan dimulai sejak anak dilahirkan dan berakhir setelah meninnggal dunia.  Tujuan pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara  adalah pengauasaan diri, sebab disinilah pendidikan memanusiakan manusia (humanisasi). Penguasaan diri merupakan langkah yang dituju untuk tercapainya pendidikan yang memanisiakan manusia ketika peserta didik mampu menguasai dirinya, maka mereka mampu menentukan sikapnya. Dengan demikian akan tumbuh sikap yang mandiri dan dewasa.
        Ki Hajar Dewanatara menggunakan sistem among dalam pendidikan. Ada 3 semboyan sistem among yaitu:
          1)  Ing ngarsa sung tuladha
              (di depan memberi teladan).
          2)  Ing Madya Mangunkarso
               (di tengah memberi kesempatan untuk bekarya)
          3) Tut wuri handayani
               (dari belakang memberi dorongan  dan arahan.
            Bapak pendidikan nasional yaitu Ki Hajar Dewantara  memiliki nama asli Suwardi Suryaningrat. Namun beliau tidak mau menggunakan nama aslinya dan lebih memilih menggunakan nama Ki Hajar Dewantara karena untuk menutupi keningratannya supaya beliau dapat membaur dengan masyarakat. Jika beliau menggunakan nama aslinya beliau akan sulit membaur dengan masyarakat karena masyarakat pasti akan memberi jarak karena beliau adalah orang ningrat. Jadi beliau memilih menggunakan nama Ki Hajar Dewantara. Pendidikan yang ada di Finlandia menganut sistem pendidikan Ki Hajar Dewantara.
            Ki Hajar Dewantoro menyoroti pendidikan nasional secara menyeluruh yang ada di Indonesia.  Ki Hajar Dewantoro bisa memberikan rasa cipta pendidikan yang ada di Indonesia. Pendidikan nasional lahir dari rasa kemerdekaan.  Menurut Emha Ainun Nadjib atau biasa dipanggil cak nun, kemerdekaan adalah manusia yang memahami batasan-batasan.  Menurut Bapak Moh Aniq KHB, S.Pd., M. Pd bahwa kemerdekaan adalah manusia yang memahami keterbatasan. Contoh nya pemain sepak bola,  pemain sepak bola mempunyai batasan-batasan saat menendang bola, alur strategi dan lain-lain tetapi pemain bola mempunyai batasan di lapangan.
              Kemerdekaan mempunyai 3 sifat yaitu :
          1. Berdiri sendiri (harus tahu potensi)
          2. Tidak bergantung dengan orang  lain (mandiri)
          3. Dapat mengatur dirinya sendiri.

          Sekian reportase  yang dapat saya sampaikan mengenai materi pertemuan kedua pada tanggal 2 Oktober 2018 dari Bapak Moh Aniq KHB, S.Pd., M.Hum  pada perkuliahan filsafat pendidikan pada pertemuan minggu kemarin. Terimakasih


 
List Blog filsafat 7A :
13. EKO NUR FATONI 15120020 fatoniekonur.blogspot.com
15. Dyah Saraswati (15120364) http://dyah15.blogspot.com/?m=1
21. Atik Budiarti 15120010 https://atikbudiarti31.blogspot.com/?m=1
29. Hadiah hana putri (15120481) http://15120481hana.blogspot.com/?m=1

Komentar